Dr.Ir. Arissetyanto Nugroho, Rektor Universitas Mercu Buana: Pendidikan Kewirausahaan, Bela Negara, dan Ketahanan Nasional

WARTAKAMPUS.COM: JAKARTA - Lemahnya semangat bela negara atau nasionalisme di kalangan masyarakat saat ini dicermati oleh Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, sebagai dampak dari lemahnya ekonomi dan jiwa kewirausahaan. Untuk itu perlu dilakukan  pemikiran dan tindakan strategis terhadap model pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi yang mendorong para mahasiswa untuk selalu berfikir kreatif dan inovatif menemukan solusi dengan basis sumber daya yang ada di negara ini. Hal ini disampaikan Dr. Aris dalam kertas karya perorangan (TASKAP) pada Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI - 2017 Lemhanas di Jakarta dengan Tema "PERAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI PERGURUAN TINGGI GUNA MENINGKATKAN SEMANGAT BELA NEGARA DALAM RANGKA PENGUATAN KETAHANAN NASIONAL."

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan bagi generasi penerus bangsa ini harus berperan aktif dan berkelanjutan bersinergis dengan semua stakeholders negara ini baik dari sektor pemerintahan maupun sektor swasta dalam pendidikan kewirausahaan. Orientasi para mahasiswa belajar di perguruan tinggi untuk mendapatkan ijazah dan mencari pekerjaan harus terus diubah menjadi tempat strategis untuk mencari keahlian, koneksi, dan untuk memulai usaha.

Kerjasama perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri merupakan suatu sinergi strategis yang memberikan dampak signifikan terhadap perubahan pola fikir para mahasiswa, sehingga diharapkan dari hubungan kuliah kerja yang berkelanjutan bisa dipupuk jiwa kewirausahaan dan kemandirian dalam berusaha. Dukungan pemerintah dari segi kebijakan dan bantuan modal bagi para mahasiswa untuk memulai dan mengembangkan usaha diharapkan bisa memberikan gairah dan semangat untuk berwirausaha.

Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) membuat dunia menjadi tanpa batas, baik aliran informasi dan modal seolah sudah tidak bisa dibendung lagi, akibatnya konstelasi dunia menjadi proxy, dimana para pengusaha besar dunia mengusai modal dan informasi. Kondisi ini apabila tidak dicermati dengan seksama maka Indonesia bisa menjadi medan pertempuran (proxy war) dari para proxy internasional untuk memperebutkan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah dan belum tereksploitasi.

Kita secara kasat mata bisa melihat bagaimana pengusaha  Amerika, Eropa, China, Korea, dan Negara Maju lainnya berusaha di Indonesia dengan kekuatan modal dan kecanggihan teknologi informasi serta kreatifitas yang mereka miliki memasuki usaha-usaha yang sebelumnya hanya dilakukan oleh masyarakat yang mempunyai keahlian rendah. Para pengusaha asing bermodal besar ini mengusai pasar Indonesia melalui perubahan mindset fast food, hedonism, dan sosialita. Mereka yang makan dan minum di tempat mereka ditimbulkan kesan sebagai orang hebat, modern, dan gaul, walaupun sebenarnya cita rasa kuliner yang mereka jual tidak jauh lebih enak dari pada makanan dan minuman Indonesia asli.

Begitu juga halnya dengan dunia pendidikan, segala sesuatu yang berbau luar negeri dan internasional menjadi hebat, dan laku, walaupun kualitasnya dipertanyakan namun kesan produk asing, internasional, serta luar negeri itu bermutu sudah begitu kuat di kalangan masyarakat Indonesia walaupun mahal tetap saja happy membeli.

Dari contoh kecil di atas, kita bisa melihat bahwa kurangnya kreatifitas dan keberanian usaha yang lahir dari suatu mind set menahun bahwa menjadi pegawai itu lebih aman dan nyaman membuat peluang untuk menjadi wirausaha di negeri sendiri diambil oleh para pengusaha asing yang punya modal dan teknologi. 

Indonesia sebagai negara tropis dimana setiap hari bisa menikmati musim panas, atau everyday is summer, dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, dengan posisi georafis yang berada di tengah-tengah benua Asia, Australia, dan Afrika, telah menjadikan posisi Indonesia sangat strategis, seksi, dan borjuis. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan pangsa pasar yang besar, telah menarik perhatian seluruh macan ekonomi dunia untuk mencari mangsa dan bertempur di sini sebagai medan pertempuran ekonomi yang bisa memecah belah bangsa. Proxy War sudah dan akan terjadi di sini!

Peran perguruan tinggi dalam menghadapi situasi ini sangat strategis. Sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan generasi muda yang akan memasuki dunia nyata, dunia bagi para pemenang, harus mempersiapkan para lulusannya untuk menjadi patriot ekonomi melalui pendidikan kewirausahaan, yang akan melawan para pedagang yang bermental imperior yang berkolaborasi dengan pemodal asing, yang lebih suka mengimpor dari pada membuat produk kreatif hasil karsa dan karya anak bangsa sendiri.

Para wirausaha muda yang berjiwa nasionalis dan pancasilais akan menjadi benteng terakhir pertahanan dan ketahanan nasional terhadap gempuran modal dan teknologi yang dimiliki oleh para kapitalis yang menggunakan segala cara untuk menguasai sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia melalui gaji besar dan kenyamanan hidup jangka pendek yang mereka tawarkan.

Tindakan massive dan jangka panjang harus dilakukan oleh pemerintah melalui perguruan tinggi bekerjasama dengan dunia usaha dan industri nasional akan memberikan hasil nyata dan terukur melalui perbaikan sarana dan prasarana wirausaha, peningkatan kualitas para mentor, kemudahan akses terhadap modal kerja, serta regulasi yang menguntungkan para wirausaha muda khususnya dan wirausaha Indonesia pada umumnya.

Kerjasama semua pihak dengan semangat belanegara (nasionalisme) akan membuat negara ini tetap berdiri sampai kapanpun. (Arissetyo)