Konferensi Internasional Mercubuana, Hadirkan Para Pakar Broadband Communication, Wireless Sensors and Powering (BCWSP)

WARTAKAMPUS.COM: JAKARTA - Pascasarjana Universitas Mercu Buana selenggarakan International Conference on Broadband Communications, Wireless Sensors and Powering 2017 (BCWSP 2017). Kegiatan yang dihadiri oleh  Menteri Komunikasi dan Informatika ini berlangsung di Menara Lantai 7 Universitas Mercu Buana Kampus Meruya Jakarta, Rabu (22/11/17).

Dalam sambutannya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan bahwa seminar Konferensi Internasional Broadband Communications, Wireless Sensors and Powering 2017 ini fokus pada teknologi memang betul dimana Teknologi harus diposisikan sebagai enabler pergerakan atau pertumbuhan berbagai aktivitas, seperti ekonomi.

"Bukan teknologinya yang membuat ekonomi kita tumbuh, tetapi pola pikir kita yang harus diubah, cara baru pemikiran, Out of The Box, dengan memanfaatkan teknologi sebagai enabler." jelas Rudiantara lebih lanjut.

Teknologi komunikasi berbasis wireless dan broadband telah mengubah cara hidup dan berkehidupan manusia dewasa ini. Dunia benar-benar dalam gengaman. Transaksi tidak terhalang jarak, semua terjadi dalam hitungan detik, cepat dan akurat, dan bisa terjadi kapan dan dimana saja. Hampir semua jenis transaksi sudah bisa dilakukan dengan teknologi wireless, mulai dari komunikasi data dan suara, banking system, teaching and learning systems, E-money, dan yang terbaru adalah perpindahan energi listrik secara wireless. Teknologi komunikasi broadband, wireless sensors, and Powering (BCSWP) sudah menjadi backbone ekonomi saat ini, yaitu ekonomi digital.

Mudrik Alaydrus selaku ketua panitia mengatakan,  The International Conference on Broadband Communication, Wireless Sensors and Powering (BCWSP) ini bertujuan menghadirkan akademisi, ilmuwan dan praktisi untuk meningkatkan silaturahmi, saling bertukar dan berbagi pengalaman tentang hasil penelitian mengenai semua aspek Komunikasi Broadband, Sensor Nirkabel, dan Pengisian Daya (powering). 

"Meningkatnya permintaan akan komunikasi nirkabel telah menjadikan spektrum frekuensi salah satu komoditas paling berharga dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, teknologi yang dapat membantu pemanfaatan sumber daya berharga yang lebih baik ini layak mendapat pengakuan yang berharga," jelas Mudrik, Profesor dalam bidang teknologi nirkabel dari Universitas Mercu Buana ini.

"Kegiatan ini juga menyediakan platform interdisipliner utama bagi para periset, pendidik dan praktisi untuk mempresentasikan dan mendiskusikan inovasi, tren, dan kekhawatiran terkini serta tantangan praktis yang dihadapi dan solusi yang diterapkan di bidang Komunikasi Broadband, Sensor Nirkabel, dan Pengisian Daya (termasuk dalam Konferensi IEEE # 41814)," kata Prof. Mudrik disela-sela acara.

Ia mengungkapkan untuk meningkatkan efektifitas, jangkauan dan kecepatan komunikasi, berbagai sistem telekomunikasi modern dikembangkan. Penemuan abad yang paling banyak dikutip adalah komunikasi seluler nirkabel dan Internet. Ini hanya bisa menjadi fiksi ilmiah bagi generasi yang hidup ini 30 tahun yang lalu bahwa seseorang dapat mengalami percakapan langsung dengan keluarga atau teman di sisi lain dunia dalam waktu dekat. Meskipun kita dapat menikmati jumlah pengalaman komunikasi yang luar biasa dengan murah melalui perangkat genggam kecil saat ini.

"Sebagian besar spektrum dialokasikan dengan jarak yang sangat halus antara berbagai standar, dan lebar saluran semuanya terbatas. Lalu lintas yang padat di sekitar frekuensi ultra-tinggi tidak memungkinkan banyak kemungkinan untuk saluran yang lebih luas. Bahkan komunikasi di saluran yang ada bisa dibajak oleh interferer terdekat di pita frekuensi yang berdekatan. Karakteristik propagasi pada frekuensi ini telah terbukti optimal untuk komunikasi jarak jauh; Oleh karena itu, sebagian besar jaringan seluler 2G, 3G, dan 4G berpusat di sekitar frekuensi ini. Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan bandwidth, pita frekuensi gelombang mikro berperan sebagai sumber daya yang harus disadap meskipun tantangan desain dan keterbatasan biaya perangkat keras," jelas Prof Mudrik. (setyo)